Apa Arti Kalimatullâh di Dalam Hadits Ini?

Maaf ustadz, saya mau bertanya tentang sabda Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam, yang artinya, “Barangsiapa berperang agar kalimatullâh tinggi, maka itulah jihad fi sabîlillâh.” Apakah arti kalimatullâh pada hadits di atas? Apakah artinya al-Qur’ân atau syiar-syiar Allâh, atau kata-kata Allâh itu sendiri? Jazâkallâhu khairan.

0852464xxxxxx

Jawaban:

Hadits yang dimaksud oleh penanya adalah sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam ketika ada yang bertanya tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mendapat ghanimah (harta rampasan perang), atau ingin disebut pemberani atau ingin disebut pahlawan, atau karena demi kegagahan. Diantara orang-orang tersebut di atas manakah yang jihad fi Sabîlillâh? Beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam menjawab :

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَة اللَّه هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيل اللَّه

Siapa yang berperang agar Kalimat Allâh menjadi tinggi, maka itulah perang di jalan Allâh.[1]

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni –rahimahullâh– menjelaskan makna Kalimat Allâh pada hadits di atas, yaitu: ajakan Allâh menuju Islam. Beliau –rahimahullâh– lebih lanjut menjelaskan bahwa salah satu kandungan makna yang dimaksud adalah tidak termasuk jihad fi Sabîlillâh kecuali jika sebab yang mendorong seseorang untuk berperang hanyalah untuk meninggikan kalimat Allâh.[2]

Ketika menafsirkan firman Allâh Ta'âla:

(QS. At-Taubah/9:40)

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allâh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allâh beserta kita." Maka Allâh menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur'ân menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. dan kalimat Allâh itulah yang tinggi. Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah/9:40)

Imam Ibnu Katsir –rahimahullâh– dalam Tafsirnya, Imam asy-Syaukani –rahimahullâh– dalam Tafsirnya Fathu al-Qadîr dan Imam ath-Thabari –rahimahullâh– juga dalam Tafsirnya, menjelaskan, bahwa maksud kalimatullâh adalah kalimat Lâ Ilâ ha Illallâh.

Sementara Syaikh Prof. Dr. Abdus Salam bin Salim as-Suhaimi, seorang professor pada Universitas Islam Madinah, menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kalimatullâh adalah agama Allâh Ta'âla. Yaitu berjihad untuk meninggikan kalimatullâh dan menjadikan agama seluruhnya menjadi milik Allâh. (Lihat al-Jihad Fi al-Islam, Mafhumuhu wa Dhawabithuhu, wa Anwa'uhu wa Ahdafuhu, karya beliau, Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyah 1430, hlm. 36)

Beliau hafizhahullâh juga menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullâh– berikut, "Maka maksud jihad adalah agar (menjadikan) seseorang tidak beribadah kecuali hanya kepada Allâh saja. Sehingga tidak beribadah kepada selain-Nya, tidak melaksanakan shalat, bersujud dan berpuasa untuk selain-Nya. Tidak pula berumrah serta berhaji selain di Baitullâh, tidak menyembelih hewan qurban untuk selain-Nya, tidak bernadzar untuk selain-Nya dan tidak bersumpah dengan nama selain-Nya. Tidak bertawakkal, takut dan taqwa kecuali kepada-Nya." (Ibid, hlm. 36-37. Lihat Pula Majmu' Fatâwâ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 35/368)

Dengan demikian makna kalimatullâh adalah seperti yang telah dikatakan oleh para Ulama di atas, dan sudah tercakup dalam apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka semua makna yang Saudara tanyakan, adalah benar.

Jadi, itulah yang disebut perang fi sabîlillâh, bukan berperang untuk tujuan duniawi berupa ghanimah, kedudukan, sebutan pahlawan atau motif-motif lain seperti dalam rangka membela fanatisme golongan, membela keinginan kelompok atau nafsu segelintir orang yang mengatas namakan Islam.

Wallâhu ‘alam.


(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XV)

Add comment


Security code
Refresh