Khutbah dengan Bahasa Arab


Pertanyaan :

Di desa saya kalau shalat Jum’at, khutbahnya hanya menggunakan Bahasa Arab. Ini dilakukan setiap Khutbah Jum’at ditambah lagi khutbah yang dibaca hanya itu-itu saja. Bagaimana hukumnya serta sahkah Shalat Jum’atnya? Syukran.

+628522473xxxx

Jawaban :

Sesungguhnya tujuan Khutbah Jum’at adalah nasehat. Oleh karena itu tema Khutbah Jum’ah yang baik adalah menjelaskan ajaran Islam yang dibutuhkan oleh umat dan menggunakan bahasa yang difahami oleh makmum. Sehingga, jika Khutbah Jum’at hanya dengan bahasa Arab di lingkungan yang tidak memahami bahasa Arab, apalagi yang dibaca tidak pernah ganti, maka hal ini tidak sesuai dengan tujuan disyari’atkan khutbah itu sendiri. Walaupun demikian, insyaAllâh shalat jum’atnya sah!

Imam Al-‘Izz bin Abdus Salam rahimahullâh berkata:

“Tidak sepantasnya bagi khathib menyebutkan dalam khutbahnya kecuali sesuatu yang sesuai dengan tujuan-tujuan khutbah. Yaitu: pujian (untuk Allâh), doa, targhîb (motivasi) dan tarhîb (ancaman) dengan cara menyebutkan janji dan ancaman (Allâh dan RasulNya), dan semua yang bisa memotivasi melakukan ketaatan atau mencegah dari kemaksiatan. Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam dalam banyak kesempatan berkhutbah dengan membacakan surat Qâf, karena surat itu mengandung dzikir kepada Allâh Ta'âla, pujian kepada-Nya serta pemberitahuan bahwa Allâh Ta'âla Maha Tahu tentang bisikan-bisikan jiwa manusia dan mengetahui perbuatan seseorang yang ditulis oleh para malaikat.

Kemudian (surat Qâf ini juga -red) mengingatkan tentang kematian dan sakaratul maut; hari kiamat dan kejadian-kejadian menakutkan pada hari itu; (surat ini juga mengingatkan tentang -red) persaksian terhadap amal perbuatan yang pernah dilakukan oleh makhluk. Kemudian mengingatkan tentang surga dan neraka, tentang hari kebangkitan dan peristiwa keluarnya manusia dari kubur. Juga memuat wasiat agar menegakkan shalat. Maka (isi khutbah) yang keluar dari tujuan-tujuan ini merupakan bid’ah.

Dalam khutbah tidak sepantasnya menyebutkan tentang para khalifah, raja, dan amir, karena tempat ini khusus milik Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya yaitu dengan menyebutkan apa-apa yang dapat memotivasi dalam melakukan ketaatan kepada-Nya dan mencegah dari maksiat kepada-Nya.

Allâh Ta'âla berfirman :

(Qs al-Jin/72: 18)

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allâh, maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allâh.

(Qs al-Jin/72: 18)


Seandainya ada sesuatu yang terjadi pada kaum muslimin, maka tidak mengapa membicarakan anjuran syari’at yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Misalnya, tentang musuh yang datang menyerang kaum muslimin, lalu khathib memotivasi kaum muslimin berjihad melawan musuh dan bersiap-siap menyongsongnya. Juga jika terjadi kekeringan, yang perlu mohon hujan kepada Allâh Ta'âla, maka khathib berdoa agar kekeringan itu dihilangkan.

Kewajiban khathib (saat berkhutbah) yaitu tidak menggunakan kalimat-kalimat yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Ini termasuk bid’ah yang buruk. Karena sesungguhnya tujuan khutbah adalah memberi manfaat kepada hadirin dengan memberikan targhîb (anjuran melakukan kebaikan) dan tarhîb (ancaman dari kemaksiatan).

Serupa dengan hal itu adalah khathib berkhutbah kepada bangsa Arab (tapi -red) dengan menggunakan kalimat-kalimat non arab, yang tidak mereka fahami. wallahu a’lam."

(Fatâwâ Al-‘Izz bin Abdis Salâm, hal: 77-78. Dinukil dari al-Qaulul Mubîn fî Akhthâil Mushallîn, hlm: 371-372).

Dengan penjelasan diatas, jelaslah bahwa pemakaian bahasa dalam khutbah tidak menentukan sah atau tidaknya Shalat Jum’at. namun yang utama adalah menggunakan bahasa yang difahami oleh makmum dengan tetap memperhatikan keterangan Imam al-'Izz bin Abdissalâm as-Syâfi’i diatas.


(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII)