Articles

Tafsir Surat Al-Bayyinah

(Oleh: Ustadz Nur Kholis Bin Kurdian Abu Hammam)



Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang bukti yang nyata.

(Qs. al-Bayyinah/98:1)


PENJELASAN AYAT

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang kafir baik Yahudi maupun Nasrani dan juga penyembah berhala, (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan agama mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata yaitu datangnya Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam. Kemudian ketika beliau datang dengan membawa al-Qur’an kepada mereka, sebagian mereka ada yang beriman dan meninggalkan agamanya dan ada sebagian lain yang mengingkarinya.[1]

Sebagaimana disebutkan didalam ayat ke-empat:

(Qs al-Bayyinah/98:4)

Dan orang-orang yang telah didatangkan al-Kitab kepada mereka
tidaklah berpecah belah melainkan sesudah datang kepada mereka
bukti yang nyata.
(Qs al-Bayyinah/98:4)


Sebelum Rasûlullâh diutus, orang Yahudi maupun Nasrani sepakat menunggu kedatangan beliau (untuk mengikutinya) karena beliau adalah Nabi akhir zaman penutup kenabian.[2]

Hal ini berdasarkan penjelasan dari kitab-kitab mereka baik Taurat maupun Injil tentang akan diutusnya Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai rasul akhir zaman, akan tetapi ketika beliau datang, mereka pun berpecah belah, ada yang masuk Islam dan ada yang tetap kafir. Sebagaimana diriwayatkan oleh Salamah bin Sallâmah bin Waqsy radhiyallâhu'anhu:

"Dulu kami mempunyai tetangga orang Yahudi dari Bani Abdul Asyhal, dia selalu mengatakan kepada kaumnya yang menyembah berhala, tentang adanya hari kiamat, adanya hari kebangkitan manusia dari kuburnya, adanya hari perhitungan amal, dan adanya surga dan neraka. Kemudian mereka berkata kepada si Yahudi,

'Celakalah engkau wahai fulan! Apakah itu yang kamu yakini?'

Kemudian dia menjawab,

'Ya, demi Dzat yang aku bersumpah dengan-Nya.'

Kemudian si Yahudi tersebut memperingatkan mereka agar mereka menyelamatkan diri dari api neraka pada hari kiamat nanti. Merekapun bertanya,

'Celakalah engkau wahai fulan! Apakah tanda-tanda yang menunjukkan datangnya hari kiamat tersebut?'

Dia menjawab,

'Akan diutus seorang Nabi dari kota ini -dengan menunjuk ke arah Mekah dan Yaman- (ke arah selatan Madinah)'.

Mereka bertanya lagi,

'Kapan munculnya?'

Kemudian si Yahudi tadi melihatku (kata Salamah bin Sallâmah bin Waqsy radhiyallâhu'anhu) dan waktu itu aku masih kecil, lalu dia mengatakan,

'Jika anak ini besar, maka dia akan menemui masanya'.

Salamah bin Sallâmah bin Waqsy radhiyallâhu'anhu berkata,

'Demi Allâh Ta'âla setelah beberapa tahun kemudian muncullah Rasûlullâh Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam yang sekarang ada di sisi kami. Kemudian kami beriman kepadanya, akan tetapi si Yahudi kufur dan mengingkarinya karena dengki dan hasad (karena Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bukan dari kaumnya).'

Salamah bin Sallâmah bin Waqsy radhiyallâhu'anhu berkata kepada si Yahudi,

'Celakalah engkau wahai fulan! Bukankah ini yang kamu katakan dahulu?'

Dia menjawab,

'Ya, akan tetapi bukan dia.'[3]


Begitu juga kisah raja Romawi Heraclius ketika bertanya kepada Abu Sufyan –ketika Abu Sufyan masih kafir– tentang sifat-sifat Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam, ajaran dan pengikutnya, guna mencocokkan hal tersebut dengan apa-apa yang telah ia dapatkan dari kitab agama Nasrani. Kemudian jika berita tersebut cocok, maka ia akan mengikutinya. Ternyata apa yang disampaikan Abu Sufyan cocok dengan apa yang ia dapatkan. Tetapi ketika datang surat dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam yang berisi seruan untuk memeluk Islam, dia menolaknya, karena takut kehilangan pamor dan ditinggalkan oleh rakyatnya. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam Shahîhain.[4]

Sedangkan penyembah berhala, mereka mengetahui kedatangan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dari para dukun yang mempunyai khadam yaitu jin yang mencuri kabar dari langit sebelum diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Kemudian setelah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam diutus, para jin tersebut tidak bisa lagi mencuri kabar dari langit, karena para malaikat melemparinya dengan bintang-bintang. Mereka pun akhirnya mengetahui hal itu sebagai tanda bahwa Rasûl yang dimaksud telah muncul.[5]


Kemudian ayat berikutnya:

2. Yaitu seorang Rasûl dari Allâh (Muhammad)
yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan.
3. Di dalamnya terdapat kitab-kitab yang lurus.
(Qs al-Bayyinah/98:2-3)


Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya bahwa bukti yang nyata tersebut adalah seorang Rasûl (Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan.

Yang dimaksud صُحُفًا مُّطَهَّرَةً (lembaran lembaran yang disucikan) adalah al-Qur’an[6] yang telah disucikan dari kebathilan[7]. Di dalamnya terdapat ayat-ayat dan hukum-hukum yang tertulis[8].

Kemudian firman Allâh Ta'âla :

(Qs al-Bayyinah/98:5)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allâh
dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya
dalam menjalankan agama dengan lurus,
dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat
dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(Qs al-Bayyinah/98:5)


Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya bahwa mengapa mereka berpecah belah setelah Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam datang kepada mereka? bukankah dia adalah Rasul yang mereka tunggu-tunggu? Padahal (sebenarnya) mereka tidak diperintahkan baik di dalam kitab-kitab mereka dan seruan para Rasul mereka, maupun di dalam al- Qur’an dan seruan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, kecuali untuk beribadah kepada Allâh Ta'âla semata dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, dengan meninggalkan semua agama yang mereka ikuti dan memeluk agama Islam.

Mereka juga diperintahkan untuk menunaikan shalat pada waktunya dengan memperhatikan tata cara, syarat dan rukunnya, serta diperintahkan pula mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk para fakir dan miskin. Itulah agama yang lurus yang mengantarkan seorang hamba untuk mendapatkan ridha-Nya dan surga yang abadi dan selamat dari siksa dan amarah-Nya[9].

Kemudian ayat berikutnya:

(Qs al-Bayyinah/98:6-7)

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab
dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam;
mereka kekal di dalamnya, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh
mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
(Qs al-Bayyinah/98:6-7)

Dalam ayat ini Allâh Ta'âla menjelaskan keadaan orang-orang yang menyelisihi kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya baik dari ahli kitab maupun orang-orang musyrik, bahwa mereka nanti pada hari kiamat akan dimasukkan ke neraka Jahannam dan mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.

Kemudian pada ayat berikutnya Allâh Ta'âla menjelaskan keadaan orang-orang shalih yang telah beriman dengan hati mereka dan melakukan amal kebajikan dengan jasad mereka, bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk[10].

Kemudian firman Allâh Ta'âla :

(Qs al-Bayyinah/98:8)

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal selama-lamanya.
Allâh ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya.
Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada tuhan-Nya.
(Qs al-Bayyinah/98:8)


Dalam ayat di atas Allâh Ta'âla menyebutkan bahwa balasan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh di sisi Rabb mereka nanti pada hari kiamat adalah surga ‘Adn, mereka menetap di sana selama-lamanya, tidak akan pernah keluar darinya, dan juga tidak akan mati. Di bawah pepohonannya terdapat sungai-sungai yang mengalir.

Allâh Ta'âla ridha terhadap ketaatan yang telah mereka lakukan di dunia, begitu pula sebaliknya merekapun ridha terhadap pemberian Allâh Ta'âla berupa (nikmat) pahala dan kemuliaan, sebagai balasan atas perbuatan baik mereka ketika di dunia. Pemberian tersebut akan diberikan oleh Allâh Ta'âla pada hari kiamat nanti kepada orang yang beriman dan beramal shalih serta takut kepada Allâh Ta'âla ketika di dunia, baik di waktu sepi maupun terang-terangan, dengan terus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya[11].


PELAJARAN DARI AYAT

  1. Penjelasan tentang penyimpangan-penyimpangan yang terdapat pada agama-agama sebelum Islam dan sesudahnya.
  2. Orang-orang ahli kitab khususnya, bersabar menanti kedatangan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam (untuk mengikuti ajarannya), karena mereka mengetahui bahwa di dalam agama mereka terdapat perubahan dan penyelewengan. Akan tetapi ketika Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam datang kepada mereka dengan membawa kebenaran, mereka pun berpecah-belah sebagian masuk Islam sebagian lainnya tetap kafir.
  3. Orang-orang ahli kitab diperintahkan untuk mentauhidkan Allâh Ta'âla dan menjauhi kesyirikan. Serta diperintahkan untuk meninggalkan agama mereka dan memeluk agama Islam ketika Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam datang, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam kitab-kitab mereka.
  4. Agama yang lurus dan diridhai oleh Allâh Ta'âla adalah agama yang berdiri di atas tauhid serta mengajarkan shalat, zakat serta meninggalkan agama-agama selain Islam.
  5. Balasan bagi orang yang tidak masuk Islam (setelah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam datang) adalah seburuk-buruk pembalasan.
  6. Orang yang beriman dan masuk Islam serta melaksanakan ajarannya, (pada hari kiamat nanti) akan mendapatkan sebaik-baik balasan yaitu keridhaan Allâh Ta'âla dan kekal di surga.
  7. Keutamaan Khasy-yah (takut) kepada Allâh Ta'âla yaitu dapat membawa seseorang untuk ta’at kepada Allâh Ta'âla dan Rasûl-Nya shallallâhu 'alaihi wasallam dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan baik berupa keyakinan, perkataan maupun perbuatan.


MARAJI’:

  1. Aisarut-Tafâsir, Abu bakr Jâbir al-Jazâiri, maktabah Ulûm wal Hikam, Madinah. Cetakan kelima th.1424 H/2003M.
  2. Jâmi’ul-Bayân ‘an ta’wîli Ayil Qur’an, Muhammad bin Jarîr Abu Ja’far at-Thabary, Mu’assasah ar- Rîsalah – Lebanon. Cetakan pertama th.1420 H/th.2000 M.
  3. Tafsîrul-qur’ânil-adzîm, al-hâfidz Abul fidâ’ Ismâ’îl bin Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Dârut- Taibah Riyadl-KSA. Cetakan kedua th.1417 H/th.1997 M.
  4. Al-Jâmi’ li-Ahkâmil Qur’ân, Abu Abdillâh Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Anshâri al-Qurthubi, Dâr Alâmul-kutub –Riyadl– KSA. Cetakan th.14 23 H/th.2003 M.
  5. Shahîh Bukhâri, Muhammad ibn Ismâ’îl al-Bukhâri. Tahqîq Dr.Mushtafa Dibul bugha. Dâr Ibnu Katsîr Beirut. Cetakan 3. Tahun 1407 H – 1987 M.
  6. Almustadrak alâsh shahîhain, Muhammad bin Abdullâh Abu Abdillâh Al-Hâkim an-Naisabûri. Tahqîq Musthafa Abdul Qadîr Athâ. Dârul kutub al-ilmiyah, Beirut. Cetakan pertama tahun 1411 H – 1990 M.
  7. Uyûnul-Atsar fî funûnil maghâzi wasy-syamâil wassiyar, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Sayyidinnâs Abul Fath. Maktabah dârut-turats –Madinah– KSA. Cetakan pertama tahun 1413 H – 1992 M.
     

[1]
Aisarut Tafâsîr (5/600).
[2]
Ibid.
[3]
Al-Mustadrak (3/471). Al-Hâkim berkata,”Hadits ini shahîh sesuai syarat Muslim. Adz-Dzahabi juga sependapat dengannya.
[4]
Shahîh Bukhâri (4/1827). Shahîh Muslim (5/163).
[5]
Uyûnul Atsar (1/125).
[6]
Tafsîr Ath-thabari (24/540).
[7]
Tafsîr Al-Qurthubi (20/142).
[8]
Tafsîr Al-Baghawi (8/493).
[9]
Aisarut Tafâsir (5/600).
[10]
Tafsîr Ibnu Katsîr (8/457).
[11]
Tafsir Ath-Thabari (24/542-543).


(Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIII)