Articles

Ittiba' kepada Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam
Sebagai Perwujudan Syahadatain

(Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)
 

Kita bersyukur kepada Allâh Ta'âla atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita. Nikmat yang Allâh Ta'âla karuniakan kepada kita sangat banyak dan tidak dapat kita hitung.

Allâh Ta'âla berfirman:

(QS Ibrahim/14 : 34)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu)
dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh,
tidaklah dapat kamu menghitungnya.
Sesungguhnya manusia itu,
sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allâh)

(QS Ibrahim/14 : 34)


Menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, nikmat terbagi menjadi dua. Pertama, nikmat mutlaqah (mutlak). Yaitu nikmat Islam, iman, hidup berlandaskan sunnah, terhindar dari marabahaya. Hal ini dilimpahkan oleh Allâh Ta'âla hanya kepada orang-orang mukmin yang mencintaiNya. Kedua, nikmat muqayyadah (terbatas). Yaitu nikmat sehat, rizki, keturunan, makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Nikmat ini diberikan oleh Allâh, tidak hanya bagi kaum Mukminin, namun juga kepada orang-orang kafir dan munafiqin, sebagai bukti bahwa Allâh adalah Maha Pemurah kepada setiap hambaNya, baik yang taat maupun yang ingkar.

Kita wajib bersyukur kepada Allâh Ta'âla atas nikmat yang telah diberikan kepada kita, berupa nikmat Islam dan nikmat berada di atas Sunnah Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam yang mulia, serta nikmat ‘afiat dan keselamatan.

Setiap orang yang meyakini Islam sebagai agamanya, pada hakikatnya telah menyatakan persaksian dan pengakuannya dengan dua kalimat syahadat:

asyhaduan laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah

Aku bersaksi bahwa tiada ilah
yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh,
dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh


Demikian juga halnya dengan orang yang hendak masuk Islam, maka dia wajib mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

yang berarti “aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh”, mengandung makna laa ma’buda bi haqqin ilallah (tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allâh Ta'âla).[1]

Adapun makna adalah, tidak ada yang diikuti dengan benar kecuali hanya Muhammad Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Oleh karena itu, mengikuti selain Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam tanpa dalil, berarti telah mengikuti kebatilan.

Allâh Ta'âla berfirman :

(QS al A’raaf/7 : 3)

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu
dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya,
amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)

(QS al A’râf/7 : 3)[2]


(QS an Nisaa’/4: 65)

Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu
sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.
Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

(QS an Nisâ’/4: 65)


(QS al Ahzaab/33 : 36)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan
tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila
Allâh dan RasulNya Telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Allâh dan RasulNya, maka sungguhlah
dia telah sesat, sesat yang nyata.

(QS al Ahzâb : 36)


Syahadat Muhammad Rasûlullâh mengandung konsekuensi sebagai berikut :

a.

, yaitu mentaati yang diperintahkan oleh beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.

Dalilnya antara lain :

(QS an Nisaa’/4:13)

Barangsiapa taat kepada Allâh dan RasulNya,
niscaya Allâh memasukkannya ke dalam surga
yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,
sedang mereka kekal di dalamnya;
dan itulah kemenangan yang besar.

(QS an Nisâ’:13)

 

b.

yaitu membenarkan yang beliau shallallâhu 'alaihi wasallam sampaikan.

Dalilnya antara lain :

(QS al Hadiid/57 : 28)

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul),
bertaqwalah kepada Allâh dan berimanlah kepada RasulNya...

(QS al Hadîd : 28)

c.

, yaitu yaitu menjauhkan diri dari yang beliau shallallâhu 'alaihi wasallam larang.

Dalilnya antara lain :

(QS al Hasyr/59 : 7)

…Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dan bertakwalah kepada Allâh.
Sesungguhnya Allâh amat keras hukumannya.

(QS al Hasyr/59 : 7)

d.

, yaitu tidak beribadah kepada Allâh Ta'âla melainkan sesuai dengan cara yang telah disyariatkan. Dengan kata lain, kita wajib beribadah kepada Allâh Ta'âla menurut petunjuk yang beliau shallallâhu 'alaihi wasallam syari’atkan.

Dalilnya antara lain :

(QS Ali Imran/3 : 31)

Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku,
niscaya Allâh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.
Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS Ali Imran : 31).[3]

Sesungguhnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam diutus kepada jin dan manusia, dan kita diperintahkan untuk beriman kepada Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dan ittiba’ kepada beliau shallallâhu 'alaihi wasallam. Diutusnya Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam merupakan nikmat yang besar bagi kaum Mukminin, sebagaimana Allâh Ta'âla berfirman :

(QS Ali ‘Imran/3 : 164)

Sungguh, Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman
ketika Allâh mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan al Hikmah.
Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu,
mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(QS Ali ‘Imran/3 : 164)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh (wafat th. 728 H) berkata:

”Kebahagiaan itu disebabkan karena mengikuti petunjuk Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Sedangkan kesesatan dan celaka disebabkan menyalahi petunjuk Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam. Sesungguhnya, setiap kebaikan di alam semesta ini, baik yang sifatnya umum atau khusus, sumbernya dari diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Begitu juga semua kejelekan di alam semesta yang menimpa manusia, disebabkan penyimpangannya terhadap petunjuk Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dan tidak mengetahui apa yang dibawa beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.

Bahwasanya kebahagiaan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat disebabkan ittiba’ (mengikuti petunjuk Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam). Risalah kenabian dibutuhkan oleh seluruh makhluk. Kebutuhan mereka kepada diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam di atas seluruh kebutuhan. Diutusnya Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam merupakan ruh bagi alam semesta, cahaya dan kehidupan.” [4]

Beliau rahimahullâh juga berkata:

”Ar Risalah (diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam) merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk memperbaiki kehidupan seorang hamba dalam hidupnya ini di dunia dan juga kelak di akhirat. Sebagaimana seorang hamba, dia tidak akan baik untuk kehidupan akhiratnya melainkan dengan mengikuti risalah, yaitu risalah Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam. Sebagaimana juga seorang hamba, dia tidak akan baik dalam kehidupan dunianya, melainkan dengan ittiba’ risalah. Sesungguhnya manusia sangat membutuhkan agama ini, karena dia hidup di antara dua gerak; (yaitu) gerak yang mendatangkan manfaat baginya dan gerak yang dapat menolak bahaya baginya.

Adapun syar’iat itu, adalah cahaya yang dapat menjelaskan apa-apa yang bermanfaat baginya dan apa-apa yang berbahaya. Syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam untuk menjelaskan apa-apa yang bermanfaat bagi manusia, dan menjelaskan pula tentang apa yang berbahaya. Dan syari’at ini adalah cahaya Allâh Ta'âla di muka bumi ini, merupakan keadilan Allâh Ta'âla di antara hamba-hambanya, dan benteng Allâh Ta'âla yang sangat kokoh. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya, maka dia akan aman.

Yang dimaksud dengan syari’at ini, bukan hanya sekedar membedakan yang bahaya dan manfaat dengan perasaan. Sebab kalau hanya dengan perasaan, maka hewan pun bisa membedakannya, keledai dan unta pun bisa membedakannya. Bahkan unta dapat membedakan debu dengan tepung. Tetapi yang dimaksud disini, ialah membedakan antara manfaat iman, tauhid, keadilan, kebaikan, jujur, amanah, sabar, amar ma’ruf nahi munkar, silaturahmi, berbuat baik kepada kedua orang tua dan tetangga, memenuhi hak, mengikhlaskan amal semata-mata karena Allâh, tawakal kepadaNya, ridha dengan qadha dan qadharNya, tunduk kepada hakNya, taat kepada perintahNya, loyal kepada wali-wali Allâh Ta'âla dan memusuhi musuh-musuhNya, dan seterusnya.”[5]

Apa yang kalian sembah? Dan bagaimana kalian menjawab seruan atau mengikuti para rasul? Imam Ibnul Qayyim, dalam muqadimmah kitabnya, Zâdul Ma’ad fi Hadyi Khairil ’Ibad,[6] beliau menjelaskan tentang makna dua kalimat syahadat :

yang berarti aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh Ta'âla. Dengan kalimat ini, Allâh Ta'âla menegakkan bumi dan langit, Allâh Ta'âla menciptakan seluruh makhluk dan mengutus seluruh rasul. Dengan kalimat ini, Allâh Ta'âla menurunkan kitab-kitabNya, Allâh Ta'âla menetapkan syariat-syariatNya.

Dan dengan kalimat ini, Allâh Ta'âla menegakkan timbanganNya dan meletakkan semua catatan amal. Dan dengannya manusia digiring ke surga atau ke neraka. Dengan kalimat ini, manusia terbagi menjadi dua. Yaitu mukminin (orang-orang yang beriman) dan kufar (orang-orang yang kafir), orang-orang yang baik dan yang jahat.

Kalimat ini merupakan sumber dari ciptân dan perintah, ganjaran dan siksa. Kalimat ini merupakan kalimat yang hak, yang dengannya Allâh Ta'âla menciptakan seluruh makhluk. Dan tentang kalimat inilah (dan kewajibannya terhadap kalimat inilah), manusia akan dihisab. Dengan kalimat ini, kiblat dan agama ini ditegakkan, dihunusnya pedang dan ditegakkannya jihad fi sabilillah. Dan ia merupakan hak Allâh Ta'âla yang wajib dipenuhi oleh seluruh hambaNya.

Kalimat Lâ ilaha illallâh, merupakan kalimat Islam, dan kunci untuk masuk ke surga. Dengan kalimat ini, seluruh makhluk yang pertama dan terakhir akan ditanya oleh Allâh Ta'âla, serta tidak akan bergeser kedua kaki hambaNya pada Hari Kiamat di hadapan Allâh Ta'âla, sehingga dia ditanya oleh Allâh Ta'âla tentang dua masalah :

Pertama, (apa yang kalian sembah?). Kedua, (bagaimana kalian memenuhi panggilan para utusanKu (Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam))?

Jawaban yang pertama, yaitu dengan mengimani kalimat Lâ ilaha illallâh, dengan mengucapkannya, memahami maknanya dan mengamalkannya. Jawaban yang kedua, yaitu dengan mengimani bahwa Muhammad adalah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, dengan mengucapkannya dan meyakininya, dengan mentaati dan tunduk kepada beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.

Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam adalah orang yang amanah atas wahyu yang diturunkan Allâh Ta'âla kepadanya. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam adalah seorang yang terbimbing dari seluruh makhluk yang ada. Dan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai utusan Allâh Ta'âla kepada para hambaNya.

Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam diutus dengan membawa agama yang lurus, dengan manhaj yang lurus, sebagai rahmat bagi sekalian alam, sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagai hujjah (bukti) kebenaran atas seluruh makhlukNya. Allâh Ta'âla mengutus beliau shallallâhu 'alaihi wasallam ketika terjadi masa kekosongan para Rasul. Allâh Ta'âla tunjuki dengannya jalan yang paling lurus, dan jalan yang paling jelas. Allâh Ta'âla wajibkan atas seluruh hambaNya untuk mentaati, menolong, membantu, menghormati, mencintai beliau shallallâhu 'alaihi wasallam dan menegakkan hak-hak atas beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.

Semua jalan akan ditutup oleh Allâh, kecuali jalan yang ditempuh oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Tidak ada jalan yang dapat membawa seseorang masuk ke dalam surga, kecuali dengan mengikuti jalan yang ditempuh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Allâh Ta'âla menjadikan kerendahan dan kehinân bagi orang-orang yang menyelisihi jalan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau shallallâhu 'alaihi wasallam:

hadits
hadits

Aku diutus dengan pedang di hadapan Kiamat, sehingga Allâh disembah semata,
tidak ada sekutu bagiNya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku,
dijadikan kehinân dan kerendahan bagi orang-orang yang menyalahi perintahku.
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

(HR Imam Ahmad dalam Musnadnya, II/50, 92; sanadnya hasan,
dari sahabat Ibnu Umar radhiyallâhu'anhu.
Dihasankan oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalany dalam Fathul Bari, VI/98)


Di dalam muqadimah kitab tersebut (Zadul Ma’ad), Ibnul Qayyim rahimahullâh menjelaskan secara tuntas tentang makna dua kalimat syahadat. Beliau menegaskan, setiap makhluk akan ditanya oleh Allâh Ta'âla tentang dua masalah besar dan penting. Yaitu, apa yang kalian sembah, dan bagaimana kalian memenuhi panggilan para utusanKu (Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam)?

Disebutkan dalam firman Allâh Ta'âla:

(QS al A’raaf/7 : 6)

Maka sesungguhnya, Kami akan menanyai ummat-ummat
yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka,
dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)

(QS al A’râf : 6)


Firman Allâh Ta'âla:

(QS al Qashash/28 : 65)

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allâh menyeru mereka, seraya berkata:
“Bagaimana jawabanmu terhadap seruan para Rasul?”

(QS al Qashash : 65)


Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya kita beribadah kepada Allâh Ta'âla? Apakah kita mentauhidkan Allâh Ta'âla dalam beribadah? Apakah kita mengikhlaskan setiap amal ibadah karenaNya? Hal ini merupakan perkara besar yang akan ditanyakan oleh Allâh kepada seluruh hambaNya. Adapun pertanyân yang kedua, apakah kita ittiba‘ (mengikuti/meneladani) Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam ataukah tidak? Hal inipun merupakan pertanyaan besar yang akan ditanyakan Allâh Ta'âla kepada seluruh hambaNya pada Hari Kiamat. Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk ittiba‘ kepada Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Billahi taufiq.

[1] Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullâhdalam kitab al Ushul ats Tsalatsah tentang makna Muhammadur Rasulullah.
[2] Al Qaulul Mufiid fi Adillati Tauhid, hlm. 35, oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin ‘Ali al Yamani al Wash-shaabi al ‘Abdali, Cet. VII, Maktabatul Irsyaad- Shan’a, Th. 1422 H.
[3] Syarah Ushul ats Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, al Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid.
[4] Majmu’ Fatâwa (XIX/93).
[5] Majmu’ Fatâwa (XIX/99).
[6]
Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad, Ibnul Qayyim, Tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir al Arna-uth (I/34), Cet. Muassassah ar Risalah, Th. 1415 H.


(Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X)