Sambutlah Bulan Ramadhân
dengan Takwa dan Taubat yang Benar


(Nasehat Syaikh Bin Baz Rahimahullâh[1] )
 

Bulan Ramadhân yang sangat kita rindukan kedatangannya sebentar lagi akan datang. Sebagai seorang Muslim, semestinya kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyongsong tamu agung tersebut. Kita berharap semoga Allah Ta'ala memanjangkan usia kita dan memberikan kesehatan kepada kita sehingga bisa beribadah dengan sebaik-baiknya di bulan yang penuh barakah ini.

 "Ya, Allah, hanya kepada-Mu kami memohon, 
panjangkanlah usia kami sehingga bisa beribadah kepada-Mu di bulan Ramadhân ini."

Berkenaan dengan bulan Ramadhân ini, kami menyajikan ke hadapan para pembaca nasehat Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baz rahimahullâh. Kami berharap semoga nasehat ini bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi kaum Muslimin umumnya. Berikut ini nasehat beliau rahimahullâh:

Nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin, hendaklah mereka senantiasa bertaqwa kepada Allâh Ta'âla. Hendaklah mereka menyambut kedatangan bulan (Ramadhân) yang agung ini dengan benar-benar bertaubat dari segala dosa. Hendaklah mereka menyambutnya dengan berusaha memahami agama mereka dan mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah puasa serta qiyâmul lail (shalat malam) mereka, berdasarkan sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam :

مَنْ يُرِد اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِي الدِّيْنِ

Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allâh Ta'âla,
maka Dia memberikan kepadanya pemahaman tentang dien[2]

Juga sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam :

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Apabila bulan Ramadhân sudah tiba,
maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka Jahannam ditutup
serta setan-setan dibelenggu[3]

Juga berdasarkan sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam :

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Jika malam pertama bulan Ramadhân sudah tiba,
maka setan-setan dan jin nakal dibelenggu,
pintu-pintu neraka Jahannam ditutup tidak ada satu pun yang terbuka,
pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun yang tertutup.
Kemudian ada malaikat yang menyeru,
“Wahai para pencari kebaikan,
menghadaplah (kepada Allâh Ta'âla dengan memperbanyak ketaatan)!
Wahai para pelaku keburukan, berhentilah!
Sesungguhnya Allâh Ta'âla memiliki banyak hamba
yang dibebaskan dari siksa api neraka.
Itu terjadi setiap malam (bulan Ramadhân)[4]

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan ibadah puasa
karena rasa iman dan mengharapkan pahala dari Allâh Ta'âla,
maka dosanya yang telah lewat terampuni.
Barangsiapa melakukan ibadah shalat malam karena rasa iman
dan mengharapkan pahala dari Allâh Ta'âla,
maka dosanya yang telah lewat diampuni.
Barangsiapa melakukan ibadah shalat malam pada malam al-qadar
karena rasa iman dan mengharapkan pahala dari Allâh Ta'âla,
maka diampuni dosanya yang telah lewat.[5]

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَ حُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَ إِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Allâh Ta'âla berfirman,
“Semua amal kebaikan Bani Adam itu adalah miliknya, kecuali puasa.
Karena puasa itu milik-Ku dan Aku yang memberikannya balasan.
Puasa itu merupakan tameng.
Jika salah diantara kalian sedang menjalankan ibadah puasa,
maka janganlah dia berkata keji dan berteriak-teriak.
Jika ia dicela oleh seseorang atau memeranginya,
maka hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang menjalankan ibadah puasa.”
Demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya,
sungguh bau mulut orang yang sedang menjalankan ibadah puasa
lebih wangi daripada minyak misik di sisi Allâh Ta'âla.
Orang yang menjalankan ibadah puasa memiliki dua kebahagiaan
(yaitu) jika dia berbuka, dia bahagia dan ketika berjumpa dengan Rabbnya,
dia bahagia dengan ibadah puasanya.[6]

Juga sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ اللهِ حَاجَةٌ فِـي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta,
maka Allâh Ta'âla sama sekali tidak butuh terhadap puasa orang itu.[7]

Jadi wasiat saya kepada seluruh kaum Muslimin, hendaklah mereka senantiasa bertaqwa kepad Allâh Ta'âla dan berusaha memelihara ibadah puasa mereka dari semua perbuatan maksiat. Hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan serta berlomba-lomba melakukan beragam kebaikan seperti bershadaqah, memperbanyak bacaan al-Qur’ân, tasbîh, tahlîl, tahmîd, takbîr serta istigfâr. Karena bulan (Ramadhân) ini adalah bulan al-Qur’ân :

QS. al-Baqarah/2:185

(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’ân
sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
(QS. al-Baqarah/2:185)

Oleh karena itu, disyari’atkan bagi kaum Muslimin, laki-laki maupun perempuan untuk bersungguh-sungguh membaca al-Qur’ân, diwaktu siang maupun malam. Setiap satu huruf bernilai satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat, sebagaimana diberitakan oleh nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam. (Semangat melakukan kebaikan ini) harus disertai semangat untuk menjauhi semua bentuk keburukan dan perbuatan maksiat, (juga harus diiringi semangat untuk) saling menasehati dengan kebenaran, amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Bulan Ramadhân ini merupakan bulan yang dilipatgandakan (nilai) amal kebaikan di dalamnya, begitu pula balasan keburukan. Oleh karena itu, seorang Muslim berkewajiban untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban yang Allâh Ta'âla bebankan kepadanya serta menjauhi semua yang Allâh Ta'âla haramkan.

Dan hendaklah perhatiannya (terhadap kewajiban dan larangan itu-pent) pada bulan Ramadhân lebih ditingkatkan lagi. Sebagaimana juga disyari’atkan bagi seorang Muslim untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan berbagai amal kebaikan seperti bershadaqah, mengunjungi orang sakit, mengantarkan jenazah (ke kuburan), menyambung tali silaturrahmi, membaca al-Qur’an, membaca tasbîh, tahlîl, tahmîd, istigfâr, doa dan beragam kebaikan lainnya. Dia (melakukan itu, karena -pent) berharap bisa meraih pahala dari Allâh Ta'âla dan karena takut terhadap siksa-Nya.

Kami memohon kepada Allâh Ta'âla, semoga Allâh Ta'âla memberikan taufiq-Nya kepada seluruh kaum Muslimin menuju keridhaan-Nya. Kami juga memohon kepada-Nya agar memanjangkan umur kita sehingga bisa melaksanakan ibadah puasa dan qiyâmul lail (shalat malam atau terawih-pent) dengan dilandasi keimanan dan keinginan meraih pahala-Nya. Sebagaimana juga kami memohon kepada Allâh Ta'âla, semoga Allâh Ta'âla memberikan kepada kami dan seluruh kaum Muslimin pemahaman terhadap agama ini, keistiqâmahan serta terhindar dari segala yang bisa mendatangkan murka dan siksa Allâh Ta'âla.

Kami memohon kepada Allâh Ta'âla, semoga Allâh Ta'âla memberikan taufiq-Nya kepada para penguasa kaum Muslmin; Semoga Allâh Ta'âla senantiasa memberikan hidayah kepada mereka, memperbaiki kondisi mereka serta memberikan taufi q kepada mereka supaya menerapkan syari’at-syari’at Allâh Ta'âla dalam semua aspek kehidupan, sebagai perwujudan dari firman Allâh Ta'âla:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allâh
(QS. al-Mâidah/5:49)

Juga firman-Nya :

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,
dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allâh bagi orang-orang yang yakin ?
(QS. al-Mâidah/5:50)

Juga firman-Nya :

Maka demi Rabbmu,
mereka (pada hakekatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim
terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
lalu mereka tidak merasa dalam hati mereka
sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
(QS. an-Nisâ/4:65)

Juga firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allâh dan taatilah Rasul(nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’ân) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(QS. an- Nisâ/4:59)

Juga firman-Nya :

Katakanlah: “Taat kepada Allâh dan taatlah kepada rasul.”
(QS. an-Nûr/24:54)

Juga firman-Nya :

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dan bertakwalah kepada Allâh.
Sesungguhnya Allâh amat keras hukumannya.
(QS. al-Hasyr/59:7)

Inilah beberapa kewajiban kaum Muslimin juga para pemimpin mereka. Para penguasa dan para Ulama (juga) wajib bertaqwa kepada Allâh Ta'âla, tunduk kepada syari’at-Nya serta menerapkannya dalam kehidupan mereka. Karena (hanya) dengan syari'at Allâh (kita akan meraih) kebaikan, hidayah, hasil akhir yang terpuji, keridhaan Allâh Ta'âla, kebenaran serta (hanya) dengan syari’at ini (kita bisa) menghindari tindakan kezhaliman.

Kami memohon kepada Allâh Ta'âla, semoga memberikan petunjuk, niat dan amal perbuatan yang baik.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين

 

[1] Diterjemahkan dari Majmû’ Fatâwâ wa Maqâlâtu Mutanawwi’ah, 15/51-55
[2] HR Imam Bukhari, dalam Kitâbul ‘Ilmi, Bâb Man Yuridillâhu bihi Khairan Yufaqqihhu fi d Dîn, no. 71 dan Riwayat Imam Muslim, Kitâbuz Zakat, Bâb an- Nahyu ‘anil Mas’alah, no. 1037
[3] HR Imam Bukhari, dalam Kitâbu Bad’il Khalq, Bâb Shifati Iblîs wa Junûduhu, , no. 3277 dan Riwayat Imam Muslim, Kitâbus Shiyâm, Bâb Fadhli Syahri Ramadhân, no. 1079
[4] HR. Tirmidzi dalam Kitabus Shaum, Bâb Ma Ja’a fi Fadhli Syahri Ramadhân, no. 682 dan Ibnu Majah, Kitabus Shiyam, Bâb Ma Ja’a fi Fadhli Syahri Ramadhân, no. 1642
[5] HR Imam Bukhari, dalam Kitâbus Shaum, Bâb Man Shâma Ramadhân Îmânan wa ihti sâban, no. 1901 dan Riwayat Imam Muslim, Kitâbus Shalâti l Musâfi rîn wa Qashrihâ, Bâb at-Targhîb fî Shiyâmi Ramadhân, no. 760
[6] HR Imam Bukhari, no. 7492 dan Riwayat Imam Muslim, no.1151
[7] HR Imam Bukhari, kitab as-Shaum, Bab Man Lâm Yada’ Qaulaz Zûri wal ‘Amala bihi, no. 1903

(Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV)