Tentang Hadist:
"Tidak Sah Shalat
Bagi Tetangga Masjid
Kecuali di Masjid"


(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XII)

Pertanyaan:

Ana mau bertanya hadits “la shalata li jaril-masjidi ilâ fil-masjid”. Apakah hadits ini shahîh? Apakah seorang tetangga masjid yang tidak mendapatkan shalat berjamaah wajib menunaikan shalat di masjid ataukah boleh di rumah (untuk shalat wajib)? Syukran.

Amar, Padang, Sumbar. 08136343xxxx


Jawaban:

Bunyi hadits yang antum tanyakan ialah:

hadist

Tidak sah shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.

Hadits ini dha’if, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullâh dalam kitab Tamamul-Minnah (hlm. 328): “Aku katakan, hadits ini tidak memiliki sanad yang kuat”.

Ada hadits shahîh yang sedikit berbeda lafazhnya dengan hadits di atas, sebagai berikut:

hadist

Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam,
Beliau bersabda: “Barang siapa mendengar adzan, lalu dia tidak mendatanginya,
maka tidak (sempurna) shalat baginya kecuali ada alasan/halangan”.

(HR Ibnu Majah no. 793, dan lainnya)

Syaikh al-Albâni rahimahullâh berkata tentang hadits ini:

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Thabarani dalam Mu’jamul-Kabir, dan Abu Musa al-Madini darinya di dalam al-Lathaif min ‘Ulumil-Ma’arif, dan al-Hasan bin Sufyan dalam al-Arba’in, dan Daruquthni, al-Hakim, serta al-Baihaqi, dari beberapa jalan, dari Husyaim, dari ‘Adi dengannya. Al-Hakim berkata: “Shahîh menurut syarat Syaikhani”. Adz-Dzahabi menyetujuinya, dan hadits itu (memang shahîh) sebagaimana dikatakan oleh keduanya.[2]

Hadits ini dengan nyata menunjukkan kewajiban menghadiri shalat jamaah di masjid bagi orang yang mendengar adzan, kecuali karena udzur (alasan/halangan), seperti sakit atau lainnya. Kemudian bagi tetangga masjid yang tidak mendapatkan shalat berjamaah di masjid, dia boleh shalat sendirian di masjid, atau pulang ke rumahnya untuk berjamaah dengan keluarganya, atau shalat sendirian.

Syaikh Masyhur bin Hasan Aalu Salman hafizhahullâh berkata: “Jika engkau telah mengetahui - menurut pandangan syariat bahwa (shalat) jamaah dilakukan di masjid (dan) bukan di rumah maka sesungguhnya para sahabat radhiyallâhu'anhum, mereka bersemangat (untuk) mendapatkan jama’ah, (sehingga) mereka tidak shalat di rumah. Mereka dahulu biasa pergi ke masjid. Jika mereka tertinggal (dari) shalat jamaah, mereka shalat di rumah. Jamaah mereka itu dilakukan di masjid, sedangkan di rumah untuk shalat sendirian. Namun sekarang, kebiasaan di zaman kita sudah berubah, sebagian manusia berbuat sesuka hatinya mulai melakukan shalat jamaah di rumah mereka”.[3]

Sesungguhnya, jika seseorang sudah berniat shalat berjamaah di masjid, lalu dia pergi ke masjid, namun shalat jamaah sudah selesai, lalu dia shalat sendirian dengan sempurna, maka dia tetap mendapatkan pahala shalat jamaah. Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

Barang siapa berwudhu‘ dengan sebaik-baiknya, kemudian pergi (ke masjid untuk shalat berjama’ah, Red.),
namun dia mendapati manusia sudah selesai shalat, Allâh Ta'ala memberikan pahala kepadanya
semisal pahala orang-orang yang menghadiri dan shalat (jamaah) itu
tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
(HR Abu Dawud no. 564, dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani)

Imam as-Sindi rahimahullâh berkata: “Zhahir hadits ini (menunjukkan) bahwa meraih pahala (shalat jamaah) disyaratkan dengan bersegera untuk melaksanakannya dengan sebaik-baiknya dan tidak melalaikannya, baik ia mendapatkan shalat jamaah maupun tidak. Barang siapa mendapatkan satu bagian dari shalat jamaah, walaupun pada tasyahud, (maka) dia mendapatkan yang pertama. Pahala dan karunia (Allâh) itu tidaklah diketahui dengan ijtihad (akal, fikiran), maka tidak dinilai sama sekali perkataan orang yang menyelisihi hadits dalam masalah ini”.[4]

WAllâhu Ta’ala a’lam bish-Shawab.