Articles

Berdakwah Kepada Suami


(Sakinah: Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun IX)
 

Redaksi Yth.

Assalâmu ‘alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh.

Pengasuh Konsultasi Keluarga yang dirahmati Allâh Ta'âla,

Saya seorang ibu rumah tangga yang sudah empat tahun menikah dan belum mempunyai seorang anak. Suami saya seorang pekerja swasta. Pada awal menikah, kami berdua merupakan kader sebuah partai. Dengan berjalannya waktu, alhamdulillâh, saya bisa meninggalkan keaktifan di partai tersebut.

Alhamdulillâh, Allâh Ta'âla memberikan jalan terbaik bagi saya, sehingga saya mulai mempelajari, melakukan dan mengamalkan Sunnah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam yang mulia ini.

Dua tahun belakangan ini, semenjak saya aktif mengaji dengan teman-teman salafiyyin, saya sering berdebat dengan suami, yang pada akhirnya saya selalu menangis. Saya merasa, apakah saya mempunyai kewajiban untuk mengajak atau mengingatkan suami sehingga dapat menempuh satu jalan dengan saya? Setiap ada kegiatan partai yang katanya untuk "dakwah", suami selalu ingin ikut, tetapi saya larang. Suami saya memegang kuat prinsipnya, bahwa partai itu sarana, jalan untuk menuju pemerintahan yang Islami.

Dalil dan hujjah sudah saya jelaskan. Buku-buku tentang politik dan demokrasi sudah saya berikan, tetapi nyatanya, suami hanya bilang "apa yang dapat diperbuat salafiyyun kalau tak ada partai dakwah ini?".

Ya, Allâh, Saya takut mendapat murka-Mu. Tetapi saya juga takut dengan ketidak-ridhaan suami dengan cara saya ini, yang pada akhirnya selalu bertengkar. Kalau sudah seperti itu jawabannya, maka saya lebih baik diam dan tidak usah ikut kegiatan ini dan itu, lebih baik di rumah tak kemana-mana. Saya hanya bisa istighfar.

Yang ingin saya tanyakan, apa yang perlu saya lakukan untuk mengajak suami agar satu jalan dengan saya? Apa solusi bagi saya agar bisa menahan emosi? Apakah Allâh Ta'âla murka dengan cara saya berdakwah seperti itu? Saya hanya ingin mendapat ridha suami, bukan ingin membuatnya marah.

Demikian surat saya ini. Saya benar-benar merasakan masalah ini begitu berat. Banyak pula teman-teman saya di kajian yang mengalami hal seperti ini.

Jazâkumullâhu khairan, semoga Allâh Ta'âla menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapat jannah-Nya.

Indah, Jakarta
 

Jawaban :

Perlu diketahui, bahwa hidayah taufiq berada di tangan Allâh Ta'âla. Manusia hanya dapat berusaha dan menjalankan kewajiban yang dibebankan kepada kita. Memang, fenomena seperti ini kerap terjadi pada pasangan suami istri yang memiliki perbedaan prinsip, apalagi permasalahan yang berhubungan dengan agama. Disinilah perlu adanya komunikasi yang lancar dan saling menasihati di antara keduanya, bukan debat kusir tanpa ada standar kebenaran sebagai rujukannya.

Melihat permasalahan yang ukhti sampaikan ini, tampaknya ada hal-hal yang perlu diperhatikan dan dicermati, khususnya dalam berdakwah mengajak suami menjadi lebih baik dan mengikuti kebenaran. Di antaranya:

1.

Berdakwah dan amar ma`ruf nahi mungkar merupakan kewajiban setiap muslim, apalagi terhadap keluarga dan orang terdekat, sehingga membutuhkan kesungguhan dalam menasihati dan mendo'akannya.

Allâh Ta'âla berfirman:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.
(QS Asy Syu'ara`/26 : 214).

2.

Perlu ditanamkan keikhlasan ke dalam hati kita masing-masing, dan usaha yang keras dalam berdakwah mengajak seseorang kepada kebenaran, sehingga kita dapat melepas beban tanggung-jawab di hadapan Allâh Ta'âla.

Demikianlah salah satu prinsip dakwah salafiyah, sebagaimana disampaikan Allâh Ta'âla dalam firmanNya:

QS Al A'râf/7 : 164

Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allâh Ta'âla akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras". Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb-mu, dan supaya mereka bertakwa. (QS Al A'râf/7 : 164)

Imam As Sa'di, ketika menafsirkan ayat ini menyatakan, inilah target agung dari mengingkari kemungkaran, agar menjadi pelepas beban tanggung jawab dan penegak hujjah atas yang diajak dan diingkari.[1]

Demikian juga bila melihat dakwah dan sejarah Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, kita dapat melihat semangat Beliau menjelaskan agama ini kepada orang lain, agar mereka mendapat petunjuk.

3.

Gunakanlah cara-cara terbaik sesuai dengan keadaan suami ukhti dengan hikmah, nasihat dan debat yang baik, seperti perintah Allâh Ta'âla dalam firman-Nya:

QS an-Nahl/16 : 125

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.
Sesungguhnya Rabb-mu,
Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya
dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS an-Nahl/16 : 125)

4.

Cara debat disini tampaknya bukanlah cara terbaik. Saran kami, hendaklah Anda menggunakan cara lain yang memungkinkan untuk dapat memberikan sedikit demi sedikit pengertian kepada sang suami, dan tunjukkan bahwa Anda tidak mengharapkan, kecuali kebaikan bersama.

5. Langkah Anda memberikan buku-buku dan hujjah-hujjah, insya Allâh berguna. Minimal telah memberikan wacana baru baginya, walaupun saat ini hatinya masih tertutup menerima hal tersebut, namun suatu saat mungkin akan menerimanya. Sebab tidak mungkin dipungkiri, ajaran atau doktrin yang ditanamkan para murobbinya ikut berperan mempengaruhi keputusannya. Sehingga untuk merubahnya, bukan perkerjaan yang mudah, dibutuhkan proses yang tidak singkat, ketekunan dan kesabaran.

6. Sebagai seorang istri, tentunya Anda harus tetap menjaga dan menunaikan kewajiban sebagai istri dan menampakkan akhlak luhur, sebab pelanggaran yang dilakukan belum dikategorikan keluar dari agama.

7. Jangan lupa mendoakan suami dalam setiap saat. Berapa banyak orang yang sadar dan bertaubat dengan sebab doa yang terkabulkan. Pilihlah, dan carilah waktu-waktu yang mustajab.
 
8. Jangan lupa juga berkonsultasi kepada para ustadz di daerah Anda. Mereka, insya Allâh Ta'âla bersedia membantu dan memberikan bimbingan dalam masalah ini.

 

Demikian sedikit yang dapat kami berikan, Mudah-mudahan bermanfaat.

 

[1] Lihat Usus Manhaj Salaf Fi Dakwah Ila Allâh, Fawâz bin Halil Al Suhaimi, Dar Ibnu Al Qayyim hal. 183